Debby@Home

“I asked God for strength that I might achieve; I was made weak that I might humbly learn to obey. I asked for help that I might do greater things; I was given infirmity that I might do better things. I asked for all things that I might enjoy life; I was given life that I might enjoy all things. I got nothing that I asked for, but everything I hope for; almost despite myself, my unspoken prayers were answered. I among all men am truly blessed”

My Photo
Name:
Location: Depok, West Java, Indonesia

I am an ordinary woman with extraordinary interest in everything

Thursday, October 07, 2004

Lupus

Apa pula ini? Serigala? bukan....Serial karangan Hilman? bukan juga....tapi sebuah penyakit!Mungkin aku yang lebih tau penyakit ini dibanding sebagian besar orang. Kemarin seorang teman telah membangkitkan ingatanku tentang ini, karena dia juga senasib sepenanggungan denganku: menderita lupus. Yang bikin aku takjub bukan karena dia sedang hamil dan karena kehamilannya penyakit ini terdeteksi, tapi karena 5 anggota keluarganya menderita penyakit yang sama, dan terdeteksi hampir bersamaan! Aku ingin bercerita sedikit tentang konsep ini dari sudut pandang seorang yang awam.

Lupus sebagai penyakit sudah aku ketahui sejak tahun 1996, sejak dokter dengan cukup simpatik dan bernuansa duka cita menyampaikan kepadaku bahwa aku sedang mengidap Lupus. Awalnya aku cukup santai menghadapinya meskipun aku harus menjalani biopsi untuk memastikan penyakit ini. Yang aku ingat ketika itu adalah betapa seramnya RSCM, dan betapa dinginnya berada di ruang operasi sambil menunggu eksekusi. Deg-degan sudah pasti, saking deg2annya sampai-sampai aku mengatur sang dokter kapan aku siap untuk dibiopsi. Kemudian hal lain yang aku ingat adalah betapa terkenalnya aku ketika aku mengambil hasil lab di sana. Baru saja aku mengatakan namaku, para petugas lab sudah langsung mengenali diagnosa penyakitku. Ya ampuuunnn...serem amat sih? Padahal awalnya hanya ruam-ruam di wajah, kepala dan sedikit di daerah punggung saja....Sesampai di dokterku, keadaan tidak lebih baik. Beliau kemudian meneruskan pemeriksaan lab di RS Cikini untuk memastikan lebih jauh mengenai penyakit ini.

Hasil lab Cikini akhirnya membuatku resmi berpenyakit Lupus. Karena sangat awam pada penyakit ini, aku sampai menangis siang dan malam meratapi nasib. Tiba-tiba aku jadi rajin mencari-cari informasi di internet mengenai ihwal penyakit ini. Rajin bertanya2 di milis yang aku ikutin (waktu itu milis 'apakabar' sangat ngetren di dunia cyber). Fortunately, aku mendapatkan simpati dan empati dari berbagai orang Indonesia di seluruh dunia. Ada dokter, orang awam, the one who had lupus also, a librarian, a writer, and so on and so on. I think I have to pay them a tribute for their concern over my illness. Perhatian mereka membuatku sedikit tenang...juga penuh pengetahuan. Bayangkan, pengetahuanku tentang lupus sedikit di atas dokter yang aku temui untuk treatment dua minggu sekali. Sampai-sampai aku menjadi tempat bertanya sang dokter, hehehehe....

Tapi sejak dulu sampai sekarang Lupus masih menjadi misteri dunia kedokteran. Bayangkan, tak seorangpun berani menetapkan apa sebenarnya penyebab lupus, dan apakah penderita lupus bisa sembuh. Aku hanya mendapatkan pencerahan di sekitar pencegahan agar tidak terkena lupus kembali. Aku dianjurkan untuk menghindari direct exposure matahari, mencegah makanan2 ekstrim, stres yang berlebihan dan lain2. Ancamannya adalah treatment ulang selama 2 tahun!! Waaaaa...tidaaaakkkkk.....sejak saat itu aku berusaha menjalani hidup sehat dan tidak neko-neko.

Sekarang lupus sudah jauh dari diriku (kata orang sih aku tetap menyandang gelar penderita lupus, hanya saja lupusku sedang inactive). Kesehatanku memang cukup terganggu jika aku terpapar sinar matahari terlalu banyak, tapi kemudian keadaan menjadi lebih baik kalau aku cukup istirahat. Semoga saja aku tetap sehat sampai aku dipanggilNya, karena lelah juga menjalani treatment selama 2 tahun tak henti2.

0 Comments:

Post a Comment

Subscribe to Post Comments [Atom]

<< Home